Utang Lama Sebelum Panggilan Ke Makkah

Terkini 15 Aug 2026 19:11 • 7 min read • 82 views • By Redaksi: PerwirasatuNews.my.id

Share berita ini

Utang Lama Sebelum Panggilan Ke Makkah
PerwirasatuNews.my.id, 15 Agustus 2026.Hujan gerimis membasahi halaman rumah Sulastri malam itu. Di ruang tamu yang sederhana, beberapa perempuan dudu...

PerwirasatuNews.my.id, 15 Agustus 2026.

Hujan gerimis membasahi halaman rumah Sulastri malam itu. Di ruang tamu yang sederhana, beberapa perempuan duduk melingkar sambil menikmati teh panas dan pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Obrolan mereka semula ringan, berpindah dari harga beras hingga kabar saudara yang merantau. Sampai akhirnya seseorang menyinggung tentang seorang asisten rumah tangga yang membatalkan keberangkatan umrah hanya karena biaya vaksin empat ratus ribu rupiah.

"Masa iya cuma gara gara empat ratus ribu?" tanya Yuni sambil mengernyitkan dahi. "Kalau benar begitu, sayang sekali."

Sulastri mengaduk tehnya perlahan. Ia memandang wajah para tamunya satu per satu sebelum tersenyum tipis.

"Itu juga yang dipikirkan semua orang waktu pertama kali mendengar ceritanya," katanya. "Tapi kadang yang terlihat di permukaan bukanlah cerita yang sebenarnya."

Ruangan mendadak hening. Hanya suara hujan yang terdengar memukul genting. Sulastri lalu mulai bercerita tentang seorang perempuan bernama Marni.

Selama hampir delapan tahun, Marni bekerja di rumah keluarga Hendra. Ia datang dari sebuah desa kecil dengan latar belakang keluarga sederhana. Setiap bulan sebagian besar gajinya dikirim ke kampung untuk membantu orang tua dan membiayai sekolah keponakannya. Di rumah majikannya, ia dikenal rajin, jujur, dan tidak pernah banyak menuntut.

Marni juga dikenal tekun beribadah. Seusai menyelesaikan pekerjaan rumah, ia sering terlihat membaca Al Qur'an di sudut ruang makan. Kadang ia menghabiskan malam dengan mengikuti pengajian daring melalui telepon genggam lamanya. Karena itulah keluarga Hendra merasa perempuan itu pantas mendapatkan hadiah yang istimewa.

Suatu sore, Pak Hendra memanggil Marni ke ruang keluarga.

"Marni, duduklah dulu," katanya sambil tersenyum.

Marni tampak bingung. Ia duduk di tepi sofa dengan kedua tangan bertumpu di lutut.

"Ada apa, Pak?"

Pak Hendra bertukar pandang dengan istrinya sebelum berkata pelan.

"Saya dan Ibu ingin memberangkatkan kamu umrah tahun ini."

Marni terdiam. Wajahnya seketika pucat. Beberapa detik kemudian matanya mulai berkaca kaca.

"Saya, Pak?"

"Iya. Semua biaya sudah kami siapkan."

Air mata langsung mengalir di pipi perempuan itu. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan sambil menangis. Seumur hidup, ia tidak pernah membayangkan kesempatan seperti itu akan datang kepadanya.

Hari hari berikutnya dipenuhi kesibukan. Paspor dibuatkan. Dokumen perjalanan diurus. Koper baru datang dari agen travel. Bahkan uang saku khusus sudah disiapkan oleh keluarga Hendra. Setiap kali melihat koper itu di sudut kamarnya, Marni merasakan campuran bahagia dan gelisah yang sulit dijelaskan.

Di kampung, keluarganya menyambut kabar tersebut dengan penuh sukacita. Ibunya menangis ketika mendengar putrinya akan menjadi tamu Allah. Tetangga berdatangan mengucapkan selamat. Sebuah selametan kecil bahkan sudah dilaksanakan untuk mendoakan keselamatan perjalanan.

Namun semakin dekat hari keberangkatan, kegelisahan Marni justru semakin besar.

Pada suatu pagi, agen travel mengirimkan daftar persyaratan terakhir. Salah satunya adalah vaksin wajib dengan biaya sekitar empat ratus ribu rupiah.

Pak Hendra memanggil Marni.

"Untuk biaya vaksin ini, saya ingin kamu yang membayarnya."

Marni tampak terkejut.

"Saya yang bayar, Pak?"

"Iya. Tidak perlu banyak. Saya hanya ingin ada sedikit ikhtiar yang benar benar berasal dari hasil kerjamu sendiri."

Pak Hendra tersenyum menenangkan.

"Kalau belum punya uang, boleh dicicil lewat potong gaji. Tidak perlu sekaligus."

Marni tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk cukup lama.

"Nanti saya pikirkan dulu, Pak."

Sejak hari itu, sikapnya berubah. Ia menjadi lebih pendiam daripada biasanya. Saat mencuci piring, pikirannya melayang jauh. Saat menyapu halaman, ia sering berhenti dan termenung menatap pohon mangga di depan rumah.

"Ada masalah?" tanya Bu Hendra suatu sore.

Marni menggeleng cepat.

"Tidak ada, Bu."

Namun wajahnya berkata sebaliknya.

Beberapa hari kemudian, Pak Hendra kembali menanyakan kepastian.

"Bagaimana soal vaksinnya?"

Marni menarik napas panjang.

"Maaf, Pak. Saya tidak bisa membayarnya."

Pak Hendra terlihat bingung.

"Kalau soal uang, bisa dicicil."

"Saya tetap tidak bisa."

"Kenapa?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Marni menunduk semakin dalam. Jemarinya saling menggenggam erat hingga buku bukunya memutih. Berkali kali ia ingin mengatakan alasan yang sebenarnya, tetapi kata kata itu selalu tertahan di tenggorokan.

"Saya tidak bisa menjelaskannya, Pak."

Jawaban itu membuat Pak Hendra semakin heran.

Hari demi hari berlalu. Keluarga Hendra mencoba membujuknya dengan berbagai cara. Bahkan beberapa anggota keluarga yang lain ikut berbicara dengannya. Namun keputusan Marni tidak berubah.

Di kampung, ibunya menelepon hampir setiap malam.

"Nduk, kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali."

Marni menggigit bibirnya.

"Saya tahu, Bu."

"Lalu kenapa kamu menolak?"

Untuk beberapa saat hanya terdengar suara napas dari kedua ujung telepon.

"Maafkan Marni, Bu."

Tak lama kemudian terdengar tangis ibunya.

Malam sebelum batas akhir keberangkatan, Marni duduk sendirian di kamar. Koper biru pemberian agen travel berdiri tegak di dekat lemari. Lampu kamar yang redup membuat bayangannya memanjang di lantai.

Perlahan ia membuka laci kecil di samping tempat tidur.

Di dalamnya tersimpan selembar kertas yang sudah kusut karena terlalu sering dibaca. Kertas itu berisi catatan utang lama keluarganya kepada seorang tetangga di kampung.

Nilainya tidak besar bagi sebagian orang.

Tetapi bagi Marni, utang itu adalah beban yang telah menghantuinya selama bertahun tahun.

Dahulu ayahnya pernah meminjam uang untuk menyelamatkan usaha keluarga yang nyaris bangkrut. Setelah usaha itu gagal, utang tersebut tidak pernah benar benar terselesaikan. Orang yang memberi pinjaman tidak pernah menagih dengan keras, namun Marni tahu kewajiban itu masih ada.

Bertahun tahun ia menabung untuk melunasinya.

Bertahun tahun pula jumlah tabungannya selalu habis untuk kebutuhan keluarga.

Setiap kali membayangkan dirinya berada di depan Ka'bah, bayangan utang itu selalu muncul lebih dulu.

Ia merasa tidak pantas berangkat membawa doa dan harapan sementara hak orang lain masih belum ia tunaikan.

Keesokan harinya, koper itu dikembalikan.

Keputusan tersebut membuat semua orang kecewa.

Sebagian menganggap Marni keras kepala. Sebagian lagi menuduhnya tidak tahu bersyukur. Tidak sedikit yang berkata bahwa ia telah menyia nyiakan kesempatan langka yang belum tentu datang lagi.

Marni mendengar semua itu.

Tetapi ia memilih diam.

Beberapa bulan kemudian, diam diam ia menjual sebidang tanah warisan keluarga yang selama ini tidak pernah disentuh. Hasil penjualannya digunakan untuk melunasi seluruh utang lama tersebut hingga tuntas.

Ketika menerima kabar itu, orang yang dulu memberi pinjaman bahkan ikut menangis.

"Sejujurnya saya sudah mengikhlaskannya sejak lama," katanya.

"Tapi saya belum bisa mengikhlaskan diri saya sendiri," jawab Marni.

Setelah utang itu lunas, hidupnya kembali berjalan seperti biasa. Ia bekerja, menabung, dan tidak pernah lagi membicarakan soal umrah kepada siapa pun. Bahkan keluarga Hendra mengira impian itu telah ia kubur dalam dalam.

Dua tahun berlalu.

Pada suatu pagi, Pak Hendra menerima sepucuk surat dari sebuah biro perjalanan.

Surat itu berisi ucapan selamat karena Marni telah terdaftar sebagai peserta umrah yang seluruh biayanya berasal dari tabungannya sendiri.

Pak Hendra tertegun membaca nama itu.

Ketika Marni dipanggil ke ruang tamu, perempuan itu hanya tersenyum malu.

"Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Pak Hendra.

Marni menatap lantai beberapa saat sebelum menjawab.

"Dulu saya bukan menolak umrah, Pak."

"Lalu?"

"Saya hanya tidak ingin datang ke Tanah Suci membawa utang yang belum saya selesaikan."

Ruangan mendadak sunyi.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, keluarga Hendra akhirnya mengetahui alasan yang sebenarnya.

Mata Pak Hendra mulai berkaca kaca.

Selama ini ia mengira Marni membatalkan perjalanan karena empat ratus ribu rupiah. Padahal yang sesungguhnya menahan langkah perempuan itu bukan biaya vaksin, bukan rasa pelit, dan bukan keras kepala.

Yang menahan langkahnya adalah rasa takut menghadap Tuhan sebelum menyelesaikan tanggung jawabnya kepada sesama manusia.

Di ruang tamu rumah Sulastri, cerita itu berakhir dalam keheningan panjang. Tidak seorang pun segera berbicara. Mereka hanya saling memandang sambil merenungkan kisah yang baru saja didengar.

Hujan di luar telah berhenti.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, semua orang memahami bahwa kadang yang tampak sebagai penolakan terhadap sebuah kesempatan besar sebenarnya adalah bentuk penghormatan terhadap amanah yang belum selesai ditunaikan.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News